MEDAN-XMETRO
Bukannya mendapat keadilan atas laporannya yang sempat mengambang selama 8 tahun tanpa kepastian hukum, Wasu Dewan, ST (39) dan istrinya Kaliyani (39), warga jalan Gaharu Gg Parmin, Kel Gaharu Kec Medan, malah menjadi tersangka atas laporan oknum Jaksa Risnawati Br Ginting, atas dugaan tindak pidana pencemaran nama baik dan fitnah melalui media sosial.

Menurut M.Sa’i Rangkuti, SH MH, didampingi Ugiharto, SH, Ubat Riadi Pasaribu, SH,.MH, Muhammad Ilham, SH, Rizky Fatimantara Pulungan, SH, Irwansyah Putera, SH dan Imam Munawir Siregar, SH, selaku kuasa hukum Wasu Dewan, ST dan Kaliyani, Senin (6/5), bahwa kliennya yang berstatus pasutri yang memiliki 3 orang anak tersebut, telah ditangkap Polrestabes Medan pada 20 April 2024.

“Terkait dugaan tindak pidana pencemaran nama baik dan fitnah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 Ayat (1), Pasal 310, Pasal 311 UU RI No 1 Tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana dan Pasal 45 ayat (3) jo Pasal 28 ayat (30 dan Pasal 45 ayat (4) jo Pasal 27(a) UU RI No 1 Tahun 2024 tentang perubahan kedua atas UU RI No 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik jo Pasal 65 KUHP yang terjadi pada Hari Senin, tanggal 5 Februari 2024 sekira Pukul 14.50 WIB, di Kejari Medan, Jalan Adinegoro No. 5 Kelurahan Gaharu, Kecamatan Medan Timur, ” ungkapnya.

Selanjutnya M.Sa’i Rangkuti mengungkapkan bahwa pihaknya selaku Kuasa Hukum pasutri tersebut, meminta kepada Polrestabes Medan melalui Penyidik yang menangani kasus ini, agar kiranya lebih mengedepankan Restoratif Justice (RJ), sebagaimana titah Kapolri terhadap penyelesaian hukum diluar Peradilan melalui RJ, apalagi Pasutri yang kini berada diterali besi, terpaksa meninggalkan 3 anak yang masih kecil dan butuh kasih sayang.

“Apalagi pelapor terhadap klient kami adalah Oknum Jaksa di Kejaksaan Negeri Medan, yang juga Jaksa yang menangani Klient kami sebagai Pelapor, sebagaimana LP/1714/K/VII/2016/SPKT Resta Men, tanggal 12 Juli 2016,” Ungkap Putra sulung dari pasangan H.M. Imballo Rangkuti, SH dan Dra. Nurlina Nasution.

Kembali M. Sa’i Rangkuti membeberkan bahwa dugaan tindak pidana yang dituduhkan terhadap Klientnya, berawal dari Klient Kami Wasu Dewan, ST bertanya kepada Oknum Jaksa di Kejaksaan Negeri Medan terkait Laporan Pengaduannya LP/1714/K/VII/2016/SPKT Resta Men, tanggal 12 Juli 2016 tersebut telah 8 tahun dan sudah cukup lama tidak ada kepastian hukum dan selalu P19.

“Maka berkaitan hal tersebut, Klient kami datang ke Kantor Kejaksaan Negeri Medan dan bertanya tentang status laporannya dan saat itu Klient Kami bertanya, namun tidak ada tanggapan yang jelas, sehingga atas kejadian tersebut, Klient kami merekamnya, sehingga menjadi Viral di Media Sosial, hingga Oknum Jaksa melaporkan Klient kami Ke Polrestabes Medan berdasarkan LP/B/461/II/2024/SPKT/Polrestabes Medan, tanggal 12 Febuari 2024, “tuturnya.

Mengakhiri, pria yang pernah berkuliah di UISU dan USU menuturkan bahwa pihaknya selaku Kuasa hukum dari Pasutri tersebut akan memberikan nasehat hukum (Legal Advisor).

” Apabila diperlukan kami selaku kuasa hukum dari Klient kami akan memberikan nasehat (Legal Asvisor), agar meminta maaf jepada Pelapor apabila nama baiknya telah tercemar oleh tindakan Klient kami yang orang kecil dan tidak memahami hukum,” pungkasnya.(irwan)

MEDAN-XMETRO
Terkait seorang tersangka penganiyayan, Josniko Tarogan, melakukan siaran langsung (live) di media sosial (tiktok) meski berstatus tersangka dan berkasa perkara telah dinyatakan lengkap (P21) oleh Kejaksaan. Di mana hal ini sontak memicu kemarahan korban Notrianta Sebayang dan publik.

Praktisi Hukum Kota Medan, Ukura Toni Sitepu, SH. CPM, angkat bicara. Ia menyangkan sikap seorang tersangka yang tidak menaati hukum, hingga melakukan siaran langsung di medsos.

“Bukannya kooperatif, ini malah live di medsos. Jelas itu pelecehan hukum,” kata Toni kepada wartawan, Sabtu (4/5).

Tersangka, lanjut dia, seharusnya menunjukan rasa penyesalannya atas pernuatannya, dan bukan Show of Force.

“Apa tersangka merasa hukum ini nngak ada. Apa ecek-ecek ini hukum ini,” kesal dia.

Untuk itu, sebut dia, ia meminta agar Polrestabes Medan dan Polsek Pancur Batu segera menahan tersangka dan menyerahkan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) sesuai perintah undang-undang.

“Tujunkan kepada masyarakat jika Polsek Pancur Batu adil dan profesional dalam bertugas,”pungkasnya.

Sebelummya, seorang tersangka kasus penganiyayan menyepelekan hukum di Pancur Batu. Pasalnya, meski sudah berstatus tersangka atas kasus penganiyayan dan berkas perkara sudah dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan Pancur Batu, pria bernama Jesiko Tarigan, malah melakukan live siaran langsung (live) di media sosial (medos) Tiktok di akun pribadinya, Josniko Tarigan122.

Siaran langsung itu pun viral di media sosial hingga sampai kepada wartawan. Dalam vidio itu terlihat seorang pria sedang melakukan live Tiktok, Jumat (3/5) dini hari. Ia bercengkarama dengan para rekan-rekannya di dalam live sambil tertawa seolah-olah ia tidak memilik masalah. Padahal, kasus yang ia hadapi cukup berat, karena melakukan penganiyayan hingga mengakibatkan korban, Notrianta Sebayang, babak belur. Entah apa yang ada dalam fikiran tersangka, yang jelas hukum di Pancur Batu telah diinjak-injak oleh tersangka. Harga diri Polsek Pancur Batu dipertanyakan.

Menanggapi itu, korban Notrianta Sebayang melalui kuasa hukumnya, Wilter Sinuraya SH kepada wartawan, Jumat (3/5) mengaku kecewa dengan pihak kepolisian yang belum menahan tersangka. Apalagi, kata dia, tersangka berani live di medsos Tiktok.

“Tidak ada lagi harga diri hukum dibuat tersangka ini. Dia (tersangka) yang seharusnya di sel tahanan malah asik live Tiktok. Sungguh miris,”kesalnya.

Untuk itu, sambung dia, demi kepastian hukum ia meminta penyidik Polsek Pancur Batu segera menyerahkan tersagka ke Jaksa Pancur Batu. Mengingat, berkas perkara telah P21 (lengkap).

Sedangkan Kapolsek Pancur Batu Kompol Hendra Simatupang ketika dikonfirmasi, apakah penyidik Polsek Pancur Batu telah menyerahkan tersangka penganiyayan, Josnoko Tarigan berserta barang bukti ke JPU, ia enggan memjawab alias bungkam.

Sebelumnua, Cabang Kejaksaan Negeri (Capjari) Deli Serdang di Pancur Batu akan segera menyerahkan berkas perkara tersangka kasus penganiyayan, Josniko Tarigan, ke Jaksa Penuntut Umum (JPU), setelah dinyatakan lengkap oleh Jaksa peneliti. Saat ini, JPU menunggu penyidik Polsek Pancur Batu untuk segera menyerahkan tersangka dan barang bukti.

“Sudah kita P21kan. Kita sedang menunggu penyidik Polsek Pancur Batu untuk menyerahkan tersangka dan barang bukti,”tegas Kacabjari Deliserdang di Pancur Batu Yus Imam kepada wartawan, Kamis (2/5).

Kanit Reskrim Polsek Pancur Batu Iptu Sahat Pangaribuan ketika dikonfirmasi wartawan, terkait penyerahkan tersangka dan barang bukti, mengaku sudah P21. Hari ini, Kamis (2/5), kata dia, penyidik akan melakukan pelimpahan tahap II, penyerahan tersangka dan barang bukti.

“Ya, P21. Akan segera kita limpahkan tahap II,”pungkasnya.

 

Sebelumnya, Setelah dua tahun melawan ketidakadilan, kasus penganiyayan terhadap Notrianta Sebayang, mulai mendapat titik terang. Penyidik Reskrim Polsek Delitua telah mengirim berkas perkara kasus tersebut ke Kejaksaan Cabang Pancur Batu. Tetapi, tersangka belum juga ditahan.(ahmad)

 

PANCURBATU-XMETRO
Seorang tersangka kasus penganiyayan menyepelekan hukum di Pancur Batu. Pasalnya, meski sudah berstatus tersangka atas kasus penganiyayan dan berkas perkara sudah dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan Pancur Batu, pria bernama Jesiko Tarigan, malah melakukan live siaran langsung (live) di media sosial (medos) Tiktok di akun pribadinya, Josniko Tarigan122.

Siaran langsung itu pun viral di media sosial hingga sampai kepada wartawan. Dalam vidio itu terlihat seorang pria sedang melakukan live Tiktok, Jumat (3/5) dini hari. Ia bercengkarama dengan para rekan-rekannya di dalam live sambil tertawa seolah-olah ia tidak memilik masalah. Padahal, kasus yang ia hadapi cukup berat, karena melakukan penganiyayan hingga mengakibatkan korban, Notrianta Sebayang, babak belur. Entah apa yang ada dalam fikiran tersangka, yang jelas hukum di Pancur Batu telah diinjak-injak oleh tersangka. Harga diri Polsek Pancur Batu dipertanyakan.

Menanggapi itu, korban Notrianta Sebayang melalui kuasa hukumnya, Wilter Sinuraya SH kepada wartawan, Jumat (3/5) mengaku kecewa dengan pihak kepolisian yang belum menahan tersangka. Apalagi, kata dia, tersangka berani live di medsos Tiktok.

“Tidak ada lagi harga diri hukum dibuat tersangka ini. Dia (tersangka) yang seharusnya di sel tahanan malah asik live Tiktok. Sungguh miris,”kesalnya.

Untuk itu, sambung dia, demi kepastian hukum ia meminta penyidik Polsek Pancur Batu segera menyerahkan tersagka ke Jaksa Pancur Batu. Mengingat, berkas perkara telah P21 (lengkap).

Sedangkan Kapolsek Pancur Batu Kompol Hendra Simatupang ketika dikonfirmasi, apakah penyidik Polsek Pancur Batu telah menyerahkan tersangka penganiyayan, Josnoko Tarigan berserta barang bukti ke JPU, ia enggan memjawab alias bungkam.

Sebelumnua, Cabang Kejaksaan Negeri (Capjari) Deli Serdang di Pancur Batu akan segera menyerahkan berkas perkara tersangka kasus penganiyayan, Josniko Tarigan, ke Jaksa Penuntut Umum (JPU), setelah dinyatakan lengkap oleh Jaksa peneliti. Saat ini, JPU menunggu penyidik Polsek Pancur Batu untuk segera menyerahkan tersangka dan barang bukti.

“Sudah kita P21kan. Kita sedang menunggu penyidik Polsek Pancur Batu untuk menyerahkan tersangka dan barang bukti,”tegas Kacabjari Deliserdang di Pancur Batu Yus Imam kepada wartawan, Kamis (2/5).

Kanit Reskrim Polsek Pancur Batu Iptu Sahat Pangaribuan ketika dikonfirmasi wartawan, terkait penyerahkan tersangka dan barang bukti, mengaku sudah P21. Hari ini, Kamis (2/5), kata dia, penyidik akan melakukan pelimpahan tahap II, penyerahan tersangka dan barang bukti.

“Ya, P21. Akan segera kita limpahkan tahap II,”pungkasnya.

 

Sebelumnya, Setelah dua tahun melawan ketidakadilan, kasus penganiyayan terhadap Notrianta Sebayang, mulai mendapat titik terang. Penyidik Reskrim Polsek Delitua telah mengirim berkas perkara kasus tersebut ke Kejaksaan Cabang Pancur Batu. Tetapi, tersangka belum juga ditahan.(ahmad)

 

 

MEDAN-XMETRO
Pasal 1 Ayat 3 UUD 1945 menegaskan bahwa Indonesia adalah negara hukum, setiap warga negara mendapat hak untuk mendapat keadilan melalui penegak hukum. Namun sepertinya, masih banyak masyarakat di Sumatra Utara (Sumut) yang luput dari perhatian dan keadilan oleh aparat penegak hukum, khusnya Polda Sumut dan jajaran.

Hal ini terlihat seperti kasus penganiyayan terhadap supir PT Key Key yang menjadi korban penganiyayan, pengancaman dan pengrusakan oleh sekelompok oknum organisasi masyarakt (ormas). Sebab, kasus tersebut terkesan seperti jalan di tempat. Sampai saat ini berkas perkara kasus tersebut belum juga dilimpahkan ke jaksa, meski sudah 2 bulan berlalu.

Padahal, kasus tersebut sangat viral di media sosial (medsos), dari aksi penganiyayan hingga penangkapan terhadap para tersangka.

Korban, Ivan Sanzes (supir PT Key Key), kepada wartawan sempat mengaku kecewa dengan Satreskrim Polrestabes Medan. Sebab, sudah berjalan dua bulan, kasus yang menimpa dirinya sampai sekarang belum jelas. Hal ini ia sampaikan kepada wartawan, Selasa (30/4) kemarin.

“Sudah berjalan dua bulan kasus itu belum masuk ke ranah persidangan, inikan sangat aneh. Kami ini masyarakat awam, janganlah diginikan,”kesal dia saat ditemui wartawan di kediamannya Desa Tiang Layar, Pancur Batu.

Iapun memastikan jika berkas perkara kasus yang menimpanya belum dikirim ke JPU. Hal ia ketahui saat mengecek di Polrestabes Medan.

Perkembangan kasus tersebut pun tidak pernah dapat penjelasan dari penyidik Polrestabes Medan, hingga ia mengadu kepada wartawan. Tujuannya, agar bisa memperoleh perkembangan kasus yang menimpa dirinya.

Akan tetapi, sama halnya seperti korban. Wartawan juga sulit memperoleh informasi dari pihak terkait. Para pejabat kompak bungkam ketika dikonfirmasi wartawan, Kamis (2/5). Padahal, profesi wartawan sudah sangat tepat untuk mempertanyakan setiap perkembangan kasus berdasarkan Undang-Undang Pers nomor 40 tahun 1999. Namun para pejabat Polda Sumut dan jajaran, memilih apatis dan bungkam. Kapolrestabes Medan, Kasatreskrim Polrestabes Medan hingga Kabid Propam Polda Sumut enggan menanggapi konfirmasi wartawan terkait kasus penganiyayan tersebut.

 

Sebelumnya, hingga saat ini, penyidik Satreskrim Polrestabes Medan belum mengirim berkas perkara kasus penganiyayan, pengancaman dan pengrusakan terhadap supir PT Key Key, Jaksa. Padahal, kasus itu sudah berjalan selama dua bulan.

Aksi pidana secara bersama-sama itu terjadi di Dusun V, Desa Durin Simbelang, Kecamatan Pancur Natu, Deli serdang, Jumat(1/2) lalu. Diketahui, kasus penganiyayan hingga penangkapan terhadap para pelaku viral di media sosial (medsos). Namun kasusnya hingga saat ini terkesan jalan di tempat.

Kasi Intelejen Kejari Deli Serdang Boy Amali ketika dikonfirmasi, Selasa (30/4), mengaku hingga saat ini Kejari Deliserdang belum menerima berkas perkara hasil penyelidikan sudah lengkap (P21) kasus 5 orang tersangka yang terlibat aksi penganiyayan supir PT Key Key.

“Belum bang, nanti dikabari,” pungkasnya.

Diketahui, sekelompok ormas menyerang supur PT Key Key di Jalan Jamin Ginting,Desa Tiang Layar pancur batu,Kabupaten Deli serdang pada Jumat(1/2/24) dinihari. Akibatnya 2 orang supir yang tengah melintas menjadi korban penganiyaan. Kemudian, kasus itu tercium aparat kepolisian. Kemudian, Satreskrim Polrestabes Medan mengamankan 5 orang pelaku dari Desa Durin Tonggal,Kecamatan Pancur Batu Deli serdang. Namun, setelah penangkapan, kasus tersebut hingga kini tidal jelas dan berjalan di tempat.(ahmad)

 

PANCURBATU-XMETRO
Cabang Kejaksaan Negeri (Capjari) Deli Serdang di Pancur Batu akan segera menyerahkan berkas perkara tersangka kasus penganiyayan, Josniko Tarigan, ke Jaksa Penuntut Umum (JPU), setelah dinyatakan lengkap oleh Jaksa peneliti. Saat ini, JPU menunggu penyidik Polsek Pancur Batu untuk menyerahkan tersangka dan barang bukti.

“Sudah kita P21kan. Kita sedang menunggu penyidik Polsek Pancur Batu untuk menyerahkan tersangka dan barang bukti,”tegas Kacabjari Deliserdang di Pancur Batu Yus Imam kepada wartawan, Kamis (2/5).

Sementara, Kanit Reskrim Polsek Pancur Batu Iptu Sahat Pangaribuan ketika dikonfirmasi wartawan, terkait penyerahkan tersangka dan barang bukti, mengaku bahwa berkas perkara sudah P21. Hari ini, Kamis (2/5), kata dia, penyidik akan melakukan pelimpahan tahap II, penyerahan tersangka dan barang bukti.

“Ya, P21. Akan segera kita limpahkan tahap II,”pungkasnya.

Sebelumnya, Setelah dua tahun melawan ketidakadilan, kasus penganiyayan terhadap Notrianta Sebayang, mulai mendapat titik terang. Penyidik Reskrim Polsek Pancur Batu telah mengirim berkas perkara kasus tersebut ke Kejaksaan Cabang Pancur Batu. Tetapi, tersangka belum juga ditahan.

 

” Ya bang, sebelum berkas perkara dikirim, saya kuasa hukum korban melakukan koordinasi dengan penyidik dan ada memasukkan surat permohonan kepastian hukum atas kasus ini kepada kapolsek. Kemudian atas bantuan dari rekan media yang juga mendesak kasus ini maka di tanggal 28 Maret 2024 penyidik telah mengirimkan kembali berkasi pelimpahan ke JPU Pancur Batu,” kata kuasa hukum korban, Wilter Sinuraya, SH kepada Metro 24, Rabu (1/4).

Meski telah ditahan, lanjutnya, entah apa alasan penyidik hingga kini penyidik belum juga menahan tersangka, Josniko Tarigan. Padahal, sesuai Undang-Undang hukum pidana tersangka sudah harus ditahan sebelu berkas perkara dikirim ke JPU.

Seperti diketahui, Notrianta Sebayang melapor ke Polsek Pancur Batu karena dianiaya tersangka Josniko Tarigan. Ia dihajar Josniko Tarigan di Jln Letjen Jamin Ginting, Desa Tiang Layar, Kec. Pancur Batu, Kab. Deli Serdang, Sumatera Utara, dua tahun lalu. Namun kasusnya ngendap di meja Kanit Reskrim Polsek Pancur Batu.(ahmad)

 

DELITUA
Pulang membeli narkoba, Marjuki alia Komeng (44) warga Jalan Banteng Ujung, Dusun III, Desa Mekar Sari, Kecamatan Delitua, ditangkap team Reskrim Polsek Delitua. Dari tangannya, petugas menyita 3 paket sabu ukuran kecil.

Kapolsek Delitua Kapolsek Delitua Kompol Dedy Dharma melalui Panit Reskrim Polsek Delitua, Ipda Syawal Sitepu kepada wartawan, Senin (29/4) mengatakan, tersangka diamankan berdasarkan informasi masyarakat bahwa di Jalan Lestari Dusun IV Desa Mekar Sari Kecamatan Deli Tua disinyalir sebagai tempat transaksi narkoba, Rabu (24/4) kemarin. Berbekal info itu, kemudian petugas meluncur ke lokasi melakukan penyelidikan.

Bernar saja, disana petugas mendapati seorang pria dengan gelagat mencurigakan. Detik berikutnya, petugas lantas melakukan pendekatan disusul penyergapan, dimana saat itu tersangka mencoba membuang barang bukti sabu – sabu dari tangannya.

“Sebelumnya, tersangka mencoba membuang barang bukti. Lalu, kita amankan dan barang bukti berhasil kita temukan,”ungkap Syawal.

Adapun, sambung dia, barang bukti yang ditemukan berupa 4 paket sabu ukuran kecil dan uang sebesar Rp 50 ribu.

“Tersangka mengaku memperoleh barang haram itu dari seseorang bernama Anto yang kini masih DPO,” sebutnya.

Tersangka dijerat dengan undang-undang tentang narkotika dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.(ahmad)

MEDAN-M24
Unit Reskrim Polsek Delitua gencar menangkap pelaku kejahatan di wilayah hukum Polsek Delitua. Kali ini, dua pelaku pencurian kendraan bermotor (curanmor) kembali ditangkap. Mereka yakni, Padil Pratama (17) warga
Jalan Sei Glugur Gang Jati 3 Kelurahan Telaga Sari Kecamatan Pancur Batu dan Suhandrian (30) warga Diski Desa Sawit Rejo Kecamatan Kutalimbaru.

“Ya, dua tersangka curanmor kembali kita amankan. Di mana sebelumnya, satu orang berhasil kita amankan,” kata Kapolsek Delitua Kompol Dedy Dharma melalui Panit Reskrim Polsek Delitua, Ipda Syawal Sitepu kepada wartawan, Jumat (26/4) malam.

Pengungkapan ini bermula ketika, korban seorang dosen, Adelina Oktavia Nasution (29) warga Jalan Tanjung Balai No. 103 Desa Paya Geli Kecamatan Sunggal, hendak ke Toko Haritsah Baby Shop di Jalan AH Nasution Kelurahan Pangkalan Mansyur Kecamatan Medan Johor, 24 April 2024 sekira pukul 23.40 Wib. Iapun memarkirkan sepeda motornya, Honda Scoopy Warna Hitam BK 6746 AHH, persis di samping toko dan masuk ke dalam toko. Takterduga, ketika ia keluar, sepeda motornya sudah hilang. Padahal saat itu, stang kreta dalam posisi terkunci.

“Atas kejadian tersebut korban merasa dirugikan dan membuat laporan resmi ke Polsek Delitua,”ucap Syawal.

Nah, berdasarkan informasi tersebut. Team unit Reskrim Polsek Delitua lantas melakukan penyelidikan. Kerja petugas pun berbuah manis. Hasilnya, petugas berhasil mendeteksi para pelaku. Kemudian, hari itu juga, petugas melakukan penyergapan dan berhasil meringkus para pelaku di SPBU Glugur Jalan Diski, Kabupaten Deli Serdang. Dalam pengungkapan itu, petugas turut mengamankan satu unit sepeda motor Scoopy BK 6746 AHH lengkap dengan surat-surat, dan satu unit HP Oppo A17 warna biru doff dan 1 unit HP VIVO V20 biru doff.

“Kini para tersangka sudah ditahan dan mereka dijerat dengan pasal 363 KUHPidana dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun penjara,”pungkasnya.(ahmad)

 

MEDAN-XMETRO
Kabar jika Godol Suranta Gurusinga alias Godol disebut-sebut terlibat kasus narkoba di Pancur Batu dibantah Dirresnarkoba Polda Sumut Kombes Pol Yemi Mendagi. Pernyataan itu disampaikan Yemi usai menangkap seorang bandar narkoba di Desa Pertampilan, Kec. Pancur Batu, Deli Serdang, beberapa hari lalu.

“Ya, ada diamankan tersangka narkoba, namun tidak terkait dengan Godol,”kata Dirresnarkoba Polda Sumut Kombes Pol Yemi Mendagi kepada wartawan, Jumat (19/4).

Disebutkan Yemi, jika tersangka narkoba yang diamankan bernama Olin Prayogi. I mendapatkan narkotika jenis sabu dari Zeky (lidik).

“Jika sabu-sabu sudah habis terjual, Zeky akan menghubungi Iyus (lidik) dan upah yang didapat pelaku bila menjual sabu sebanyak 2 paket Rp 200 ribu,”tegas dia.

 

Sebelumnya, Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut menangkap seorang bandar Narkoba bernama Olin Prayogi di Desa Pertampilan, Kec. Pancur Batu, Deli Serdang, Selasa (2/4) malam, kemarin. Dari tangan pria warga Desa Durin Sembelang, Kec. Pancur Batu ini, ditemukan 31 paket sabu-sabu siap edar.(ahmad)

 

 

Medan-XMETRO

Merasa terzolimi terkait tanah warisan oleh saudara kandung, Fadlina Raya Lubis (55), warga Jalan letda Sudjono, Kel Bandar Selamat, Kec Medan Tembung, melalui kuasa hukumnya, Mahmud Irsyad Lubis,SH melakukan gugatan Perdata ke Pengadilan Negeri Medan dengan Nomor Perkara 279/Pdt.G/2024/PN Mdn.

Menurut Mahmud Irsyad Lubis,SH didampingi Iskandar,SH kepada wartawan, Rabu (3/4), hal itu berawal mengenai lahan tanah dan bangunan di jalan Letda Sudjono No 163, Kel Bandar Selamat, Kec Medan Tembung berdasarkan SHM No 104 atas milik Hj Maryam Batubara.

“Dikarenakan Hj Maryam Batubara wafat tahun 2001, Sertifikat tersebut beralih ke ahli waris anak Alm Hj Maryam Batubara yang terdiri dari 6 orang, yaitu Fahril Fauzi Lubis, Fadlina Raya Lubis, Alm Yahya Payungan Lubis, Masdelina Lubis, Hasan Basri Lubis dan Alm Budi Iskandar Lubis yang meninggal tanpa memiliki anak, “kata Mahmud Irsyad Lubis.

Lanjutnya Mahmud Irsyad Lubis mengungkapkan bahwa setelah surat tanah No 104 dengan ahli waris tersebut, Fadlina Raya Lubis dan Alm Yahya Payungan Lubis membuat kuasa No 33 tanggal 10 Mei 2001 kepada penerima kuasa Fahril Fauzi Lubis, Masdelina Lubis dan Hasan Basri Lubis, dengan tujuan untuk melakukan penjualan tanah beserta bangunan tersebut.

“Tetapi di tahun 2023 saat adanya gugatan ahli waris di Pengadilan Agama Medan, justru Fadlina Raya Lubis mendapati dan terkejut adanya Perikatan Jual Beli (PJB) No 68 tanggal 31 Juli 2006 yang dibuat oleh Notaris Alina Hanum,SH yang kini Protokolnya Notaris Faridah Hanum, SH, padahal Fadlina Raya Lubis tidak pernah hadir kehadapan Notaris tersebut, apalagi menandatangani PJB tersebut, bahkan ada juga surat kuasa No 69 tanggal 31 Juli 2006 yang tidak pernah dibuat Fadlina Raya Lubis, atas dasar itu, Fadlina Raya Lubis melakukan Gugatan Perdata di PN Medan, serta nantinya akan mempidanakan hal tersebut,” terang Mahmud Irsyad Lubis.

Mengakhiri Mahmud Irsyad Lubis mengerangkan bahwa pihaknya selalu kuasa hukum telah memblokir SHM 104 di Kantor BPN Medan.

“Hal itu sebagai upaya agar tergugat yang tak lain saudara klien kami, tidak melakukan hal yang lebih jauh lagi, makanya telah kita lakukan blokir pada tanggaldartanggal 27 Maret 2023,” Tuturnya.

Terpisah, Padlina Raya Lubis kepada wartawan mengatakan bahwa dirinya merasa tidak beruntung punya saudara, karena dirinya merasa terzholimi akan hal harta warisan milik orangtuanya, serta dirinya meyakinkan bahwa tidak pernah membubuhkan tanda tangan di dalam Surat kuasa No 33, tanggal 10 Mei 2001 dan No 69 tanggal 31 Juli 2006.

“Malalui kuasa hukum, saya meminta keadilan, apalagi ada hak saya sebagai ahli waris, inilah yang selama ini saya rasakan oleh saudara saya, terutama abang saya, ” Bebernya sambil menyeka air matanya yang menetes. (ahmad)

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.